Bagaimana Kita Mendefinisikan Puisi?
Begitu banyak kemungkinan definisi tentang apa itu puisi. Jika kita membaca karya-karya berbau puitik seperti The Oddysey karya Homer yang dituliskan di era Yunani Kuno, maka kita akan berasumsi bahwa puisi adalah sebuah kisah petualangan atau suatu karya sastra pengembaraan. Jika kita membaca karya Chairil Anwar maka kita akan menyimpulkan bahwa puisi adalah permainan kalimat bermakna yang pendek dan kuat. Tetapi jika kita membaca sajak-sajak Afrilzal Malna, maka kita mungkin akan menganggap puisi adalah sebuah teka-teki makna yang tampak (oleh penyair) dituliskan secara semena-mena. Atau jika kita membaca karya penyair Pablo Neruda yang berjudul 100 Love Sonets (Seratus Soneta Cinta), maka kita akan membayangkan bahwa puisi lebih mungkin sebagai sebuah “novel aforistik”.
Mendefinisikan puisi tidak sekedar harus mejangkau begitu banyak kekuatan gaya-gaya puitik. Sebagai bayangan gaya puitik ada dalam bentuk soneta, mantraik, sufistik, pamflet, pantun, dadais dan sebagainya. Sebagai contoh, karya-karya puisi Wordsworth dijelaskan sebagai sajak spontan karena kekuatan emosi yang mengalir kuat dalam kata-katanya. Beberapa negara juga mempunya tradisi puitik masing-masing, seperti Jepang, Eropa, China, Arab, ataupun Indonesia. Di Indonesia saja, berbagai wilayah di Nusantara mempunyai tradisi etnopuitik (puisi etnik) yang berbeda-beda sesuai dengan etnik. Sebagai contoh di komunitas etnik Bugis Makassar terdapat model etnopuitik seperti “aru” atau “pasang” yang sangat khas.
Puisi juga kadang harus dihubungkan perubahan-perubahan ideologi pemikiran. Maka kita akan mengenal istilah puisi barok, puisi renaissance, puisi tradisional, puisi modern, puisi postmodern. Hal tersebut terkait dengan posisi puisi bukan sekedar sebagai seni murni tetapi juga sebagai sebuah instrumen pemikiran yang menunjukkan gaya berfikir yang berkembang pada masa puisi itu di lahirkan atau kekuatan gaya pemikiran apa yang mempengaruhi sang penyair.
Kadang puisi juga tidak cukup memuaskan jika didefiniskan secara akademik (ilmiah). Puisi menjadi sebuah definisi personal yang bisa saja dimiliki oleh siapapun yang “berhasil” mempersepsi sebuah karya puitik. Emily Dickinson, misalnya, pernah ditanya tentang apa itu puisi, dan ia menjawab “jika aku membaca sebuah buku dan buku itu tiba-tiba membuat tubuh saya menjadi dingin sekaligus terbakar hangat, maka saya yakin itu adalah buku puisi”. Demikian pula Thomas Dylan yang menjelaskan puisi sebagai “sesuatu yang membuat saya emosi saya berubah, membuat saya tertawa atau menangis atau menjadi lemah, yang menuntun saya ingin melakukan atau tidak ingin melakukan sesuatu”.
Apakah itu puisi?
Puisi tentu adalah sebuah istilah yang lahirdari bahasa Latin “poeta” atau bisa diartikan sebagai syair. Banyak pakar sastra sepakat kalau puisi adalah salah satu bentuk seni sastra yang menggunakan kekuatan bahasa secara estetik. Dalam puisi, kata-kata tidak di kreasi sekedar memenuhi unsur estetik tetapi juga pada kekuatan makna. Puisi dapat dituliskan secara individual sebagaimana dikenal dengan istilah sajak-sajak diskrit. Puisi juga isa ditulis dalam bentuk interteks seperti model yang dikenal dengan istilah drama puitik, himne, puisi lirik, atau prosa puitik sebagai mana banyak ditulis oleh penyair Lebanon Kahlil Gibran.
Puisi juga terkait dengan bagaimana cara ditampilkan atau dibacakan. Dalam konteks tersebut kita akan menemukan gaya membaca puisi yang berfokus pada pola retorika sebagaimana cara W.S Rendra ketika membaca sajak-sajak pamfletnya yang bergaya pidato propaganda. Puisi juga bisa dibaca secara dramatic atau teatrikal, puisi juga bisa dilagukan, puisi pun bisa dimainkan dalam bentuk komedi. Maka puisi mewakili segenap tindakan-tindakan kreatif yang menggunakan bahasa dan gaya bertutur.
Puisi juga adalah sebuah pola-pola permainan kata-kata. Dalam puisi akan kita temukan berbagai bentuk-bentuk tertentu penggunaan kata-kata secara tidak konvensional. Penyair menuliskan puisi tidak dengan arti dasar suatu kata tetapi berdasarkan arti alternative dari suatu kata, atau rumusan-rumusan makna baru dari komposisi kata-kata. Permainan kata, dalam puisi, juga ditujukan untuk membangkitkan respon-respon bathin secara emosional dan sensual. Puisi menggunakan berbagai perangkat (dikenal dengan istilah perangkat stilistika) seperti asonansi, aliterasi, bentuk kata yg menirukan sesuatu bunyi, dan irama yang kadang-kadang digunakan untuk mencapai efek dan komposisi musikal (incantatory). Penggunaan model ambiguitas, simbolisme, ironi, dan elemen gaya diksi puitis lainnya, disengaja oleh penyair agar puisinya terbuka untuk di interpretasi secara ganda. Demikian pula penggunaan gaya bahasa metafora, simile, dan metonymy yang menimbulkan kualitas resonansi kalimat antara sesuatu yang dinyatakan menjadi berbeda dengan yang di gambarkan sebagai sebuah makna. Efek puitik yang dituju dari sebuah permainan kata-kata adalah membentuk sebuah pola hubungan makna yang sebelumnya elum pernah dipahami atau dirasakan oleh manusia.
Puisi menjadi sebuah gaya dan teknik penggunaan kata dan makna. Ini tentu serupa dengan arsitektur membangun sebuah gaya rumah dengan teknik arsitektural dengan karakter tertentu. Seorang penyair besar seperti Dante, Neruda, Gibran, Rumi, Yeats, Chairil Anwar, Rendra, hingga Sutardji C. Bahri sesungguhnya adalah arsitek-arsitek kata dan makna yang mempunyai pola dan pendekatan masing-masing dalam memainkan kata-kata dan membentuk komposisi makna-makna.
Lalu apa itu puisi?
Puisi selalu berkembang untuk lepas dari kemungkinan-kemungkinan didefinisikan. Tak ada definisi umum tentang sebuah puisi yang dapat secara tuntas dan akurat memberikan kepada kita pemahan tentangnya. Beberapa konsep analogis menarik tentang puisi menyatakan “puisi adalah bahasa yang dipahat pada makna”, “puisi adalah kuas makna penyair yang dilukiskan pada kanvas jiwa pembacanya”. Pendeknya, puisi selalu bergerak menjauh dari segala definisi-defini yang muncul. Itulah sebabnya segala bentuk definisi yang mengikat tentang puisi selalu gagal menjelaskan fenomena puisi baru yang muncul.
Tujuan dan bentuk puisi yang dituliskan para penyair selalu bergerak melampaui puisi yang telah ada. Tetapi yang pasti puisi adalah salah satu metode untuk menyatakan dunia. Bagaimana bentuk dan tujuan sebuah puisi dituliskan itu soal yang lebih detail lagi. Puisi mengisyaratkan sebuah petualangan bahasa yang tak berhenti. Definisi puisi tidak mungkin menghentikan gerakan-gerakan kreatif dan inovatif penyair untuk terus melampaui bentuk dan tujuan puisi yang telah ada. Pengembaran kreatif dalam membentuk emosi kata, membangun komposisi musical baru, membuat topografi, meengkreasi gaya bahasa, pembentukan kata baru, permainan diksi tak mungkin dihentikan dengan sebuah definisi tentang apa itu puisi.
Sebuah kemungkinan menarik untuk menjawab pertanyaan ontologis tentang apa itu puisi bisa didekati dengan berbagai kemungkinan ideologi. Kita hanya bisa melihat atau setidaknya menduga bahwa puisi adalah sebuah upaya respon terhadap dunia melalui model atau karakter sastra dalam bentuk puisi. Kita juga bisa melihat susupan pemahaman ideologi sastra yang memandang puisi secara berbeda, sebut saja eksistensialisme, marxisme, dadaisme dll. Secara resonansi waktu puisi pun dipahami berbeda dalam tradisi tradisional, modern, dan postmodernisme.
Perpsekti f tradisionalisme berpendapat bahwa puisi adalah ekspresi dari sebuah visi yang diberikan dalam bentuk yang indah dan menyenangkan kepada orang lain dan mungkin membangkitkan emosi yang sama. Perspektif modernisme, berasumsi bahwa puisi adalah sebuah objek otonom yang mungkin atau mungkin tidak mencerminkan dunia nyata tetapi dibuat dalam bahasa yang dibuat khusus dengan referensi makna yang kompleks. Perspektif postmodernisme, memandang puisi sebagai kolase dari idiom yang menarik emosi tapi mandiri.
Salah satu cara lain memahami puisi adalah memandangnya sebagai salah satu bentuk genre sastra yang unik. Tentu puisi harus kita pahami sebagai sebuah model komposisi sastra yang berbeda dengan novel atau cerpen. Dengan memahami perbedaan puisi dengan komposisi sastra lainnya, setidaknya kita juga dapat mempunyai bayangan tentang apa itu puisi. Lalu, apa yang membedakan puisi dari komposisi sastra lainnya? Pertanyaan tersebut juga bisa “debatebel”. Intinya (tanpa bertujuan membangun sebuah definisi), puisi adalah sesuatu yang otonom bahkan hingga ditinggak individu puitik berupa sajak-sajak. Maka pada diri sajak-sajak itulah ia mendefinisikan dirinya. Setiap anda membaca satu puisi maka puisi itu sendiri yang akan mendefinisikan dirinya.
Tidak banyak cara praktis untuk mendefinisikan apa itu puisi. Definisi yang tersedia dalam dunia akademik, akan mengacu pada berbagai perspektif dalam lingkup estetika, teoris sastra, dan kritik sastra. Tetapi apapun perspektif yang digunakan dalam dunia akademik selalu beroperasi pada sebuah model komposisi puisi tertentu. Kadang banyak kasus, teori sastra atau kritik sastra diajukan untuk mengurai substansi dan esensi seuah puisi tetapi puisi itu sendiri mempertahankan kebenaran dirinya. Apakah puisi itu adalah sebuah puisi dengan kualitas sastra tinggi, rendah, atau sedang, selalu mempunyai kebenaran puitik didalam dirinya. Seberapa tegas sebuah teori sastra puisi atau kritik sastra puitik mengungkap eksistensi puisi, sebuah puisi selalu bertahan dengan kebenaran puitiknya sendiri-sendiri.
Lalu ada beberapa kemungkinan kita memahami kebenaran puitik yang mungkin juga sangat tidak memuaskan. Pertama puisi mungkin adalah sebuah seni sastra yang tidak terjelaskan. Statemen tersebut menjelaskan bahwa sebuah puisi adalah susunan kata-kata yang maknanya berada diluar dari kata-kata tersebut. bahkan kemungkinan lain dari sebuah puisi sebagai sastra yang tak terjelaskan adalah kemungkinan tidak dapat ditemukan wujudnya ketika dibaca tetapi dalam proses pasca pembacaan atau dalam sebuah refleksi setelah terbaca.
Kemungkinan lain , sebagai kemungkinan kedua dalam memahami kebenaran puisi adalah memahami puisi sebagai sebuah tindakan penemuan. Argumentasi tersebut tentu terkait dengan apa yang dikemukakan seorang penyair bernama Skacel yang menyatakan bahwa “penyair tak pernah menuliskan puisi, penyair hanya menemukan puisi”. Sebuah derita atau kesedihan yang tampak dituliskan seorang penyair dalam puisinya sesungguhnya adalah derita dan kesedihan yang ditemukannya disuatu tampat didunianya. Maka kebenaran yang mungkin dari sebuah puisi adalah sebuah penemuan. Menulis puisi adalah sebuah kemungkinan dari tindakan penemuan. Dalam konteks ini kita bisa memilah kemungkinan kualitas penemuan sebagai cara memilah kualitas puisi. Puisi amatir, puisi populer, puisi anak-anak, atau puisi yang berkualitas sangat tergantung dari kualitas makna yang ditemukannya atau kualitas puitik yang ditemukannya.
Kemungkinan lain , sebagai kemungkinan kedua dalam memahami kebenaran puisi adalah memahami puisi sebagai sebuah tindakan penemuan. Argumentasi tersebut tentu terkait dengan apa yang dikemukakan seorang penyair bernama Skacel yang menyatakan bahwa “penyair tak pernah menuliskan puisi, penyair hanya menemukan puisi”. Sebuah derita atau kesedihan yang tampak dituliskan seorang penyair dalam puisinya sesungguhnya adalah derita dan kesedihan yang ditemukannya disuatu tampat didunianya. Maka kebenaran yang mungkin dari sebuah puisi adalah sebuah penemuan. Menulis puisi adalah sebuah kemungkinan dari tindakan penemuan. Dalam konteks ini kita bisa memilah kemungkinan kualitas penemuan sebagai cara memilah kualitas puisi. Puisi amatir, puisi populer, puisi anak-anak, atau puisi yang berkualitas sangat tergantung dari kualitas makna yang ditemukannya atau kualitas puitik yang ditemukannya.
Kebenaran lain yang mungkin terdapat dalam sebuah puisi adalah fase unik dari zaman atau karakter penyairnya. Kemungkinan ini terkait dengan sebuah gaya zaman atau karakter personal penyair. Pengalaman unik dan sebuah zaman yang khas tentu akan melahirkan puisi-puisi yang mengandung karakter kebenarannya sendiri. Pada perspektif itulah, kita akan menemukan sebuah kebenaran soneta yang khas dari jiwa seorang penyair idealis seperti Pablo Neruda, atau kita akan menemukan sebuah kebenaran dari puisi mantra yang ditulis oleh seorang penyair mistik seperti Sutardji Calzhoum Bachri, atau kita menemukan sebuah kebenaran misteri kata-kata dari puisi dadais dari seorang penyair absurd seperti Afrizal Malna.
Kemungkinan kebenaran yang keempat dari sebuah puisi adalah bahwa puisi tidak punya rumus, tidak punya cetakan, tidak punya resep, dan tidak punya motif. Maka sebuah puisi tidak mungkin diukur dalam konteks rumus, cetakan, resep, atau motif-motif puitik apapun. Sangat sulit untuk mengatakan bahwa karya-karya puisi Aslan Abidin lebih rendah dari kualitas puisi Afrizal Malna. Sangat tidak mungkin mengatakan bahwa karya-karya puisi Williams Butler Yeats yang pernah memenangkan Nobel bidang sastra jauh lebih baik dari karya-karya puisi Chairil Anwar yang tidak pernah memenangkan hadiah Nobel kesusasteraan. Semua puisi dibentuk dari rumus, cetakan, resep, dan motif yang berbeda.
Kemungkinan kebenaran yang kelima adalah puisi dibangun dengan kredo puitik subjektif dari masing-masing penyair. Visi kepenyairan menggambarkan sebuah visi kebenaran yang subjektif pada setiap puisi. Para penyair mempunyai cara pandang yang berbeda memahami apa itu puisi dan cara kerja yang berbeda dalam menggunakan puisi. Perbedaan-perbedaan tersebut bersandar pada kebenaran puitik masing-masing penyair.
Untuk menjawab pertanyaan apa itu puisi tentu bukan sebuah situasi yang sederhana, kita harus mengacu pada berbagai kemungkinan kebenaran yang bisa menjawap pertanyaan ontologis tersebut. seringkali ketika seseorang mencoba menjawab pertanyaan seputar apa itu puisi, maka yang ditemukan bukanlah jawaban melainkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih rumit lagi.
Sungguminasa-GOWA, 23 Februari 2008
Ahyar Anwar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar